Saat hujan turun aku selalu mendekat kedekat jendela yang menatap tajam halaman. Semua bersepakat membuat aku terpesona hingga tidak ingin beranjak dari jendela. Aku menatap lekat setiap air yang berjatuhan, betapa indah dan manisnya.
Kini hari semakin sore tapi aku belum mau beranjak dari kursi pojok diruang belakang. Rasanya terlalu cepat waktu berlalu hingga aku tidak tahu matahari semakin terbenam mengganti warna menjadi oren kemerahan, mereka sebut itu senja. Ku kira hujanlah yang membuat aku lupa akan segala hal, baik penat maupun sesak. Ia mengantarkanku akan ketenangan yang tidak semua bisa merasakan kecuali aku si gadis hujan.
Begitulah sebutan teman-temanku atau semua yang tahu tentang aku. Mereka terkadang menatap heran ketika aku menceritakan mengenai bau harum saat hujan turun, atau saat aku tersenyum melihat rintik-rintik hujan yang jatuh. Bahkan tertawa lepas saat badan basah kuyup kehujanan.
Kadang mataku melihat kosong seakan sedang menerawang jauh, entah apa yang aku pikirkan dari tadi. Tanganku terus menulis-nulis huruf dijendela. Hari itu bertepatan saat hujan sedang turun sedari siang. Aku melamun lagi. Dering telfon membangunkanku dari lamunan.
“blip..blip!” bunyi handphoneku
Ternyata itu bbm dari Saldy.
“Semua berubah, pergilah sejauh pilihanmu” begitu katanya.
Sambil membaca, akupun menghembuskan nafas panjang. Rasanya aku paham tentang apa yang dia maksud.
“oke.” Balasku singkat.
Sungguh Saldy dan semua yang pernah singgah dan aku singgahi, tidak ubahnya daun kering yang berserakan dijalanan. Semua datang, tumbuh, mati, jatuh, mengering, kemudian hancur dimakan tanah.
“Tidak berguna! Sama saja!” gumamku dalam hati.
Sekarang kupasang muka datar, mengalihkan pandangan dari layar handphone kearah jendela. Ya dia ingin aku sapa lagi, hujan. Hanya dia ciptaan Tuhan yang sangat ampuh membuatku tidur dari marah, atau membangunkanku dari rasa sedih dan sepi, dia tidak pernah meninggalkanku. Selalu datang menepati janjinya. Aku tersenyum. Betapa harum wangi yang dia hadirkan saat menyentuh tanah di bumi ini, termasuk tanah dihalaman rumahku.
Kau mungkin heran mengapa aku mencintai hujan. Pernah satu waktu aku melihat ibu pergi dari dekapanku yang selama ini selalu menghangatkanku. Ternyata aku merasakan sakit yang teramat ketika seseorang yang selalu aku percaya menghapus kegelisahan dengan dekapan serta nasihatnya, kini berjarak. Bahkan meninggalkanku dengan candu rindu kepadanya. Rasanya dada ini sangat sesak. Rasanya ingin kutumpahkan air mata namun semua tertahan, entah apa yang menahannya mengalir.
Kemudian hujan datang, bahkan sangat deras. Mungkin dia mengerti aku yang tidak bisa menangis, ia wakili tangisanku. Aku mendekat ke jendela. Tak terasa pipi ini semakin hangat. Ah sial. Air mata ini mengalir.
Lalu hujan membuatku diam, tapi seketika aku menangis hebat tapi tanpa suara. Mungkin karena suara hujan lebih keras sehingga menutupi suara tangisanku. Bersamanya aku tangisi kepergian ibu yang banyak orang menganggap ibu meninggalkanku demi ego dan ambisinya. Tapi ibu membantah, Dia bilang sangat mencintaiku tapi ijinkan ibu pergi. Aku mengiyakan.
“Pergilah bu, ketempat yang membuatmu bahagia. Terimakasih bu, telah mengantarkanku ke gerbang kedewasaan” kataku menahan haru.
Sambil tersenyum ibu berkata “Kamu anak ibu yang ibu sayang, ibu pamit”
Bersama hujan ibu pergi, tapi hujan dipipiku yang sedari tadi kututupi dengan selimut tebal.
Itu kisahku beberapa waktu lalu. Ingantaku kembali pada hari ini. Aku kembali ke jendela, hujan masih belum berhenti meski suara adzan magrib bersautan dari masjid ke masjid, hingga semua terdiam, hujan masih belum diam. Hujan masih turun menemaniku yang ingin sendiri, sendirian. Kumatikan handphone yang sedari tadi tidak berhenti berbunyi.
Aku tahu itu semua pesan dari seluruh sahabatku atau orang yang megaku menyayangiku bahkan benar menyanyangiku. Mungkin mereka khawatir, sebulan ini aku kuliah seperti halnya gigi nenek, bolong-bolong. Aku sedang mengikuti egoku, dan melindungi orang-orang sekitarku untuk tidak mengkhawatirkan keadaan yang kubuat semua nampak baik.
Aku menghilang dari dunia maya, sosial, bahkan kuliah. Semua kutinggalkan demi menguatkan kondisiku yang tidak sangat aku hendaki. Berhentilah mengasihaniku. Pikirku yang egois, semata menyembunyikan rasa sakit ini.
Hujan kembali mengalihkanku tentang segala hal. Mungkin terlalu banyak kenangan yang kami ukir, kami ? ya, aku dan hujan. Ada lagi yang kuingat bersama hujan. Suatu hari aku pernah tertawa lepas bersama teman ketika aku memksanya mengikuti keinginanku untuk menerobos jalan raya saat hujan turun lebat. Dia memarahiku karena baginya itu tindakan konyol yang hanya akan membuat kami jatuh sakit. Tapi aku tetap memaksa. Dia mengabulkan permintaanku.
Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku tertawa kencang melihat temanku yang menjalankan motor dengan kecepatan yang angkanya banyak alias ngebut karena kesal dengan tindakkanku. Jas hujanpun percuma. Temanku marah.
“Kamu ih bocah suka hujan-hujanan.” Tegas temanku dengan nada kesal.
Namun aku tidak memperdulikannya, aku bahagia. Air hujan yang mebasahi bumi kini membasahi badanku. Mengelus halus pipi bulat ini. Berjatuhan lebut diatas helmku. Bahkan membasuh kedua kakiku.
Aku bahagia. Bersama hujan aku merasa bahagia.
Kubuka jendela, namun kututup lagi karena waktu menunjukan magrib, waktu pergantian yang dilarang untuk keluar rumah karena hawa dan suasananya yang kurang enak.
Aku mengambil wudhu, lalu menghadap-Nya.
“Terimakasih Tuhan untuk setiap tetes air yang berjatuhan dalam riuh hujan, Kunikmati setiap hembus harum nya. Berkat ciptaanMu yang itu, aku merasa waktu berharga untuk mensyukuri segala nikmatMu yang Kau tuangkan dalam berbagai bentuk yang Kau kemas dengan berbagai rupa. Baik tentang yang dinamai kesedihan, baik tentang yang disebut kehilangan, baik tentang yang disebut kebahagiaan.” Dariku Si Gadis Hujan..


0 comments:
Post a Comment